Senin, 28 Oktober 2013

Sejarah dan Kebudayaan Suku Bugis

1.    Sejarah
      Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara,Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara.
Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratanAsia tepatnya Yunan. Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari “dunia atas” yang “turun” (manurung) atau dari “dunia bawah” yang “naik” (tompo) untuk membawa norma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006). Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
      Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang,Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)

Penyebaran Islam
Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.

Kolonialisme Belanda
Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang berhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan banyaknya korban di pihak Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa. Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian pada tahun 1905-1906 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Makassar dan Bugis baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.

Masa Kemerdekaan
Para raja-raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan Orde Lama (Soekarno) untuk membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Makassar & Bugis adalah generasi yang lebih banyak mengonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.

Bugis Perantauan
Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka. Alasan merantau adalah Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.

Bugis Di Kalimantan Timur
Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh.
Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Bugis Di Sumatera dan Malaysia
Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja diJohor & selangor yang merupakan keturunan Luwu.

2.    Kebudayaan
Adat Istiadat
Salah satu daerah yang didiami oleh suku Bugis adalah Kabupaten Sidenreng Rappang. Kabupaten Sidenreng Rappang disingkat dengan nama Sidrap adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa. Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta’at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong. Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen. Namun terdapat daerah dimana masih ada kepercayaan berhala yang biasa disebut ‘Tau Lautang’ yang berarti ‘Orang Selatan’.
Mata Pencaharian
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.


Adat Pernikahan

Dalam sistem perkawinan adat Bugis terdapat perkawinan ideal:
1. Assialang Maola
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah
    maupun ibu.
2. Assialanna Memang
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah
    maupun ibu.
3. Ripaddeppe’ Abelae
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah
    maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga.

Adapun perkawinan – perkawinan yang dilarang dan dianggap sumbang (salimara’):
1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah
2. perkawinan antara saudara sekandung
3. perkawinan antara menantu dan mertua
4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan
5.  perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu

Tahap – tahap dalam perkawinan secara adat :
1. Lettu ( lamaran)
    Ialah kunjungan keluarga si laki-laki ke calon mempelai perempuan untuk
    menyampaikan keinginannya untu melamar calon mempelai perempuan.
2. Mappettuada. (kesepakatan pernikahan)
    Ialah kunjungan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan untuk membicarakan
    waktu pernikahan,jenis sunrang atau mas kawin,balanja atau belanja
    perkawinan penyelanggaran pesta dan sebagainya
3. Madduppa (Mengundang)
    Ialah kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya kesepakayan antar kedua bilah
    pihak untuk memberi tahu kepada semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang
    akan dilaksanakan.
4. Mappaccing (Pembersihan)
    Ialah ritual yang dilakukan masyarakat bugis (Biasanya hanya dilakukan oleh kaum
    bangsawan), Ritrual ini dilakukan pada malam sebelum akad nikah di mulai,
    dengan mengundang para kerabat dekat sesepuh dan orang yang dihormati
    untuk melaksanakan ritual ini, cara pelaksanaan nya dengan menggunakan daun
    pacci (daun pacar),kemudian para undangan di persilahkan untuk memberi berkah
    dan doa restu kepada calon mempelai, konon bertujuan untuk membersihkan dosa
    calon mempelai, dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua calon mempelai.

 Hari pernikahan dimulai dengan mappaendre balanja , ialah prosesi dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabat, pria-wanita, tua-muda, dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, dan mas-kawin ke rumah mempelai wanita. Sampai di rumah mempelai wanita langsung diadakan upacara pernikahan,dilanjutkan dengan akad nikah. Pada pesta itu biasa para tamu memberikan kado tau paksolo’. setelah akad nikah dan pesta pernikahan di rumah mempelai wanita selesai dilanjutkan dengan acara “mapparola” yaitu mengantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki. mappaenre botting adalah beberapa hari setelah pernikahan para pengantin baru mendatangi keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai wanita untuk bersilaturahmi dengan memberikan sesuatu yang biasanya sarung sebagai simbol perkenalan terhadap keluarga baru. Setelah itu, baru kedua mempelai menempati rumah mereka sendiri yang disebut nalaoanni alena.
Kepercayaan
Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam gua atau gunung atau pohon keramat. Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu. Mereka mengaku shalat 5 waktu, berpuasa, dan berzakat. Walaupun pada kenyataannya mereka masih menganut animisme di daerah mereka. Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap.
Hukum Adat
Di Sidrap pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang = semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama Nenek Mallomo’. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya Ade’e De’nakkeambo, de’to nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo’ Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum. Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan.

Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhiketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Dalam Lontara’ La Toa, Nenek Mallomo’ disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo’ dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara’ (ahli mengenai buku Lontara’) dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu’mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.
Adat Panen
Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya. Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi. Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini. Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.
Bahasa Suku Bugis

Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, yang tersebar di kabupaten sebahagian Kabupaten Maros, sebahagian Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng. Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara. Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.

3.    Kesenian
Alat musik
1.Kacapi(kecapi)
   Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis,
   Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau
   diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang 
   memiliki dua dawai,diambil karena penemuannya dari tali layar perahu.
   Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan,
   bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
2. Sinrili
    Alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkan dengan
    membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaan pemain
    duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.
3. Gendang
    Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar
    seperti rebana.
4. Suling
   Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
• Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
• Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan
   dimainkan bersama penyanyi
• Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah
   Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau
   acara penjemputan tamu.

Seni Tari
• Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika
   kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran
   dan kehormatan
• Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang
   sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan
   perempuan-perempuan Bugis.
• Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai (waria),
   namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung, dan tari
   Pabbatte(biasanya di gelar padasaat Pesta Panen).

Makanan Khas Sulawesi Selatan
 1. COTO MAKASSAR
2. KONRO
3. SOP SAUDARA
4. PISANG EPE’
5. PISANG IJO
6. PALU BASSAH
7. PALA BUTUNG
8. NASU PALEKKO (Bebek)

Permainan
Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang): Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga, Mappasajang (layang-layang), Malonggak

Senjata Suku Bugis
Senjata Khasnya adalah Kawali


Etika Menulis Di Internet

Dalam menulis di internet ada beberapa hal yang penting dalam penulisan, selain tujuan dari penulisan ada aspek lain yang perlu diperhatikan karena jika kita salah menulis kita dapat dijerat hukum. Undang undang yang mengatur tentang penulisan di internet diatur dalam UU ITE, UU Pers dan KUHP yang apabila terbukti melanggar hukum kita dapat dijerat.
Pada penulisan ini penulis akan meberikan penjelasan mengenai etika menulis di internet agar kita terhindar dari Undang – undang yang menjerat. Berikut adalah penjelasannya ;
1. Tidak ada Unsur Sara.
Dalam melakukan penulisan di internet /posting sebaiknya tidak mengandung unsur SARA yang dapat mengakibatkan suatu suku, golongan, ras, agama ataupun bangsa lain tersinggung. Selain itu kita juga dapat dijerat dengan hukum cyber yang berlaku.
2. Menggunakan kata – kata bijak.
Pergunakanlah kata – kata bijak dalam memposting suatu tulisan di internet, karena bisa membuat seseorang tersinggung dan mengakibatkan kita terjerat dalam hukum.
3. Bukan hasil dari Plagiat.
Sebaiknya jika kita hendak membuat tulisan / posting usahakan jangan menjiplak karya seseorang 100%, karena kita bisa disebut Plagiat sehingga dapat mengakibatkan kita terjerat dalam masalah hukum.
4. Menggunakan kalimat yang mudah di pahami.
Kalimat yang baik mempengaruhi kualitas dari sebuah tulisan (postingan), semakin baik kalimat yang kita gunakan semakin baik pula sebuah tulisan karena mudah dapat dipahami. Karena dalam kita menulis kita membuat tulisan bukan hanya untuk kita sendiri tapi untuk orang banyak.
5. Tulisan tersebut dapat dibuktikan keasliannya / kejujurannya (berupa fakta )
Keaslian / kejujuran dalam suatu tulisan haruslah terbukti kebenarannya, jika tidak kita dapat membuat tulisan palsu atau hanya mengada – ada.
6. Bermanfaat bagi yang membaca
Tulisan yang kita muat di internet sebaiknya bermanfaat bagi yang membaca, dengan begitu setiap tulisan yang kita tulis akan memberikan wawasan serta edukasi tambahan bagi pembaca.
Di Indonesia aturan atau kaidah hukum mengenai etika menulis di internet pun sudah di undang-undangkan yang ditetapkan tahun 2008. Aturan itu adalah Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau (UU ITE). Pada UU ITE perbuatan yang dilarang menyangkut isi tulisan tertuang pada BAB VII pasal 27 ayat 1 sampai 4 dan pasal 28 ayat 1 dan 2.
Pasal 27
Ayat (1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/ataumembuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
Ayat (2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.
Ayat (3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/ataumembuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
(4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.
Pasal 28
Ayat (1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.
Ayat (2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).
Mengenai ketentuan pidananya tertuang pada BAB XI Pasal 45 ayat 1 dan 2
Pasal 45
Ayat (1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Ayat (2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Demikian postingan untuk kali ini, semoga dapat bermanfaat bagi kalian yang membaca, dan menambah semangat kalian untuk menulis/posting artikel lebih banyak lagi.

Sabtu, 07 September 2013

Buat iseng iseng aja hehe

simple aja……
sebenarnya kita tidak memerlukan code-code panjang untuk membuat file yang mungkin bisa menggegerkan orang. Cukup dengan satu barispun sebenarnya kita bisa membuat orang itu syok…khususnya untuk orang “AWAM”
let’s play………
  1. buka notepad
  2. ketik code ini pada notepad Anda. shutdown -r -t 13 -c “VIRUS GANAS MENYERANG KOMPUTER ANDA…WASPADALAH!!!” -f
  3. save dengan nama file yang diikuti dengan extensi .bat contohnya coba.bat atau curhatan.bat
  4. Jalankan file tersebut.
Sebenarnya itu tidak berbahaya karena code tersebut adalah perintah untuk merestart komputer Anda, tidak ada perintah untuk merusak, menghapus, menyembunyikan file Anda atau merubah registry windows Anda.
bagaimana cara supaya teman Anda menjalankan file tersebut?
Caranya dengan “Social Engineering”
Anda bisa mengconvert file .bat tersebut menjadi file .exe dengan menggunakan tools tertentu, anda bisa mencarinya di google. Jika Anda sudah mengconvert file tersebut gantilah icon tersebut dengan icon setup (icon yang biasa di pakai untuk file-file install itu lohh) kemudian ganti namanya dengan game.exe , miyabi.exe , kode_uan.exe atau apa saja yang membuat teman Anda tertarik untuk menjalankan file tersebut………
Sekian… Semoga Bermanfaat………..

Sumber : sepupu gue

Kamis, 31 Mei 2012

Apa Maksud Semua Ini?


Oke mungkin menurut kalian judul diatas terlalu bikin orang kepo

Sebelumnya sorry banget nih blog gue udah lama banget ga nulis di blog gue, jangan pada kangen gitu doong. Gue tau ini berat, tapii ga gitu jugaa :'(

Dan hari ini gue mau posting lagi kali ini gue mau ngasih tau tentang cerpen gue yang gue bikin pake pengalaman sekaligus ide ide cemerlang alias imajinasi gue. Walaupun dalam cerita ini gue lebih banyak menggunakan imajinasi gue hahaha.
Oke let's get it started


Apa Maksud Semua Ini?

Dok…..dok……dok….dok. Bunyi yang tak asing lagi bagiku. Bunyi itu setiap pagi berkerja seperti alarmku. Yang setiap pagi betugas sebagai alat pembangun dari alam mimpiku. Tapi jangan mengira bahwa suara itu merupakan suara suster yang memanggilku Dokter. “Dok…..dok……dok…dokter.” yah suara itu lah yang sama sekali tak aku inginkan. Karena aku bukan merupakan seorang dokter. Dan tak pernah mau menjadi dokter. Namun bunyi itu merupakan suara pintu yang di ketuk oleh ibunda tercintaku untuk membangunkan ku dari alam mimpiku. Dan di pagi itu merupakan hari ke-4 di sekolah baru ku. Yang kini aku duduk dibangku SMA


Yah tiba lah aku disekolah baru ku. Dimana itu hari pertama kalinya aku memakai motorku untuk pergi kesekolah. Dan menurut pepatah “yang pertama itu yang sulit dilupakan”. Kring...krong…ohooho…sambrukadul...ngehebrutbrut…camgrabutun …sreksrek…kring. Yah bunyi itu adalah bunyi masuk kelas sekolah baru ku. Memang sedikit aneh tapi nyata. Duduk lah aku disamping teman baru ku yang bernama Rizky Reza, Rizky juga, Reza pasti. Begitulah dia menyebutkan namanya. Rizky mempunyai badan kurus, tinggi, kulitnya putih, giginya mancung, hidungnya pun juga mancung, mampunyai mata sipit. Dan saat itu pula aku melihat  seperti bidadari turun dari kayangan. Mungkin ini yang disebut dengan pandangan pertamaku dan pastinya “yang pertama itu yang sulit dilupakan”. Tapi dia bukan terbang bukan turun begitu saja dari kayangan, dia kesini diantar pake motor. Pertamanya aku tidak tahu siapakah dia itu, kulitnya putih mulus, rambutnya hitam bergelombang. Sepertinya dialah Pandangan pertamaku. Kring….krong….Sabrukutuk….Crewcrew….Sbrungkungketebrek ….caribungsruksruk…brekbrekbrekbrungkutukbreng…kring. Sepertinya itu merupakan bel istirahat, saat aku kebetulan sedang membawa sebuah makanan dari rumahku. Makanlah aku dengan bekal seadanya yaitu bekal berupa satu porsi nasi goreng, telur mata sapi, telur mata ayam, telur mata kaki, sampai telur mata burung pun aku makan. Mungkin ini merupakan gejala lapar yang ku tahan sejak pelajaran berlansung.


            Krong….krong….sabrutbrut….jrenggenjreng….mathuyuku….breyurk….kring. Sepertinya itu terlalu cepat untukku, makananku masih bersisa setangah dari makanan yang tadiku makan. Dengan amat sangat lapar akhirnya akupun memakan setengah porsi tersebut dalam waktu 5 detik. Itu merupakan bel masuk kelas kembali, mungkin bel disekolah baru ku sudah tak akan asing lagi bagiku. Disini disana disitu didepan kelas aku melihatnya lagi! Dia bidadari dari kayangan yang kuceritakan tadi. Sungguh cantiknya, ayunya, beautipull pokoknya. Senyumnya cairkan hati yang membeku, sangat manis, sangking manisnya setiap semut akan tertempel didekatnya. Seandainya aku menjadi semut itu. Dia mempunya daya tarik yang sangat menarik ku sudah seperti gravitasi “black hole” yang bisa menyerap sekalipun itu benda langit yang amat besar. Dia itu bagaikan kunci untuk membuka pintu hatiku. Yah begitulah dia itu, sudah seperti mengalihkan duniaku saja.
Yah rupanya ketua kelas kami yang bernama Farzo Ibrahim Krutun Hanim Prajualit Angin Rezka Hubungu, itulah nama lengkapnya. Dan kita bisa memanggilnya “Gembul”. Gembul merupakan orang yang suka makan, gemuk, tinggi, dia bisa mengunyah satu porsi mangkok mi ayam dengan satu lahap. Dan dia berkata “Sakali lagi anak anak, beta baritahu. Bahwa saat ini juga pak Angus belum ditemukan.” Begitulah dia memberi pengumuman kepada kami. Ramainya kelas tidak terbayangkan, apalagi dengan ulah teman sebangku ku (Reza) yang selalu mencari perhatian dari semua anak dikelasku. Tapi pandanganku terus tidak lepas dari bidadari dari kayanganku yang belum aku tahu siapa namanya.


            Jam, Menit, Detik, terus berlalu seolah berjalan seperti angin yang selalu menghembuskan rambut bidadariku. Dan di suatu waktu *Sreg* disaat ku memandanginya dia pun melihat kearahku. Oh sungguh cantiknya dia, dia sungguh tak bisa terbayangkan lagi, dan dia tersenyum padaku. Dia hanya duduk sendiri di PKS (Pojok Kanan ataS). Mungkin ini merupakan moment, waktu, yang sangat tepat untuk mengenal dirinya. Mulailah aku bergegas menghampirinya. Saat ku hampir sampai dia berkata “ Eh sorry, permisi yah gue mau ke toilet”. Oh tuhanku, mengapa aku tak sempat lagi berkenalan denganya. Waktupun terus berlalu, sampai lah bidadariku dikelasku. Dia duduk disamping ku di tempat tadi PKS (Pojok Kanan ataS). Dia pun mulai menanyakan dahulu “Eh iya sorry nama lo siapa yah?” Dalam hati aku berfikir, aku senang dia menanyakan namaku. Tapi mengapa? mengapa? Setiap ia berbicara harus meminta maaf kepadaku? “Eh sorry”. Apa salah dia terhadapku? Lalu aku menjawab dengan sedikit rasa gugup “Nama gue? Nama gue Zainal, lo siapa?” Bidadari itu pun menjawab “Ohh Zainal, gue Franka Siskamla, panggilnya gue Franka, lo gue panggil inal aja yah?” sambil ia menjabat tanganku. Betapa senangnya aku berjabat tangan denganya. Sungguh halus tangannya seperti bantalan bantalan yang ada dihatiku. Akupun menjawab “Yaudah terserah lo aja mau panggil gue apa”. Disaat itu juga lah kita berdua saling berbagi cerita. Dan akhirnya kini aku tahu, bahwa rumahku dengan Franka merupakan jalan satu arah. Kring….krong…. sabrukutuk….gregregregregreg….Jambukluting….serongkrongnabuk….kring. Itu merupakan bel pulangnya sekolahku. Disaat itu jugalah aku langsung mengajak Franka pulang bersamaku “Franka pulang bareng ga? Satu arah ini” dan Franka langsung menjawab dengan tegas “Yuk, gue mauuuu”.


            Dengan motorku yang baru, naiklah Franka dibelakang. Tapi sayangnya bukan dibelakangku, melainkan ia duduk dibelakang kakak kelas ku. Franka pun merasa bersalah dan langsung meminta maaf “Maaf kak gue ga sengaja, gue salah naik motor”
Dan akhirnya duduklah dia tepat dibelakangku. Jalanlah  aku kearah rumahku dan mengantarkan Franka kerumahnya dahulu. Waktupun terus berjalan dengan melajunya motorku yang santai. Sampai lah aku dirumah Franka. Dan Franka langsung mengajakku masuk kerumahnya “Yok nal masuk aja dulu, minum dulu, sekalian gue kenalin sama orang tua gue” aku pun dengan ragu langsung menjawab “Yah engga deh Fran, gue gaenak” Franka pun terus membujuk “Ayolah sekali ini aja” gue dengan masih sedikit ragu “gue pulang aja deh Fran, ntar nyokap gue nyariin gue”. Akhirnya Frankapun mengizinkan ku untuk pergi. Sesampainya aku dirumah, aku tertidur dan selalu menghayalkan jika aku sedang berjalan lagi dengannya yah mungkin kebanyakan orang menyebutnya “kencan”. Tiba tiba dimana aku sendang membayangkan hal tersebut, Telefon genggamku, my handphone berbunyi triktrik…triktrik…triktrik…triktrik…
begitulah bunyi SMS masuk. Dan aku berkata “Panjang umur”. Coba apakah kalian bisa menebaknya ini merupakan SMS dari siapa? Yah betul, SMS dari Franka “Nal nanti malem jemput gue dirumah gue yah, kita jalan bareng. Mumpung besok kita libur” Dengan rasa senang sekaligus bingung aku pun menjawab “Ayok daaah, kemana?” memang kebetulan besok adalah hari libur. Franka membalas “Kita diner yok?” Aku pun senang tak terkira, aku senang melompat lompat seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan oleh ibunya. Apakah ini adalah kencan? Dan aku menjawab “Nyokdah,  gue jemput jam 9 yah?” Franka kembali menjawab “Oke”.
                                                                                                                

Sampailah aku dirumah Franka dan pergilah kita kesebuah kedai makan, yang bernama CafĂ© Cava. Merupakan salah satu kedai makan yang elit. Dia memesan makanan, aku pun juga memasannya. Kita masih sibuk dengan bertukar cerita antara kita berdua. Sibuknya kita berdua bertukar cerita, sampai habisnya makanan kita berdua. Franka pun langsung menulis sesuatu di sebuah tissue dengan tulisan “Gue suka sama lo” Dan gue tidak menjawab selama hampir 2 jam, dan kubalas surat tissue nya dengan tulisan “lo mau ga jadi pacar gue?” Dan hampir 1 jam ia tak membalas surat ku. Akhirnya kita pun pulang tanpa jawaban darinya dan aku merasa sangat bingung dengan apa yang aku lakukan. Aku pun masih bertanya-tanya, apakah maksud dari semua ini? 



Yah itu lah cerita yang gue buat, sebenernya ini tugas cerpen gue tapi gapap lah gue share aja. oh iya menurut kalian gimana ceritanya? ngebosenin? lucu? kurang panjang? bikin kepo? tolong pada comment yah, biar gue tau kritik dan saran kalian sekalian buat ngebangun tulisan gue juga. dan ingat "kami akan kembali"