Rabu, 12 November 2014

kumpulan soal-soal bahasa indonesia


    1.     Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata), kecuali :
               a)     Tata Bahasa
               b)    Kosa kata
               c)     Laras Bahasa 
               d)    Tata Bahasa dan Kosa kata
               e)     A,B, dan D benar 
    2.     Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Sistem tersebut mencakup unsur – unsur, kecuali :
a)     Sistem lambang yang bermakna dan dapat dipahami oleh masyarakat pemakainya.
b)    Sistem lambang tersebut bersifat konvensional yang ditentukan oleh masyarakat pemakainya berdasarkan kesepakatan.
c)     Lambang – lambang tersebut bersifat arbiter (Kesepakatan) digunakan secara berulang dan tetap.
d)    Sistem lambang tersebut bersifat terbatas, tetapi produktif.
e)     Sistem lambang tersebut bersifat luas dan tidak produktif.
    3.     Bahasa dapat ditinjau dari tujuh aspek seperti dibawah ini, kecuali :
a)     Bahasa merupakan sebuah sistem, artinya bahasa susunan kata-kata yang teratur dan jika kehilangan salah satu unsur akan merubah atau merancukan sebuah arti dalam kalimat. 
b)    Bahasa merupakan sistem tanda, artinya sudah ada kesepakatan atau konvensi bahwa sebuah bahasa dapat mewakili suatu hal atau peristiwa yang dipahami bersama dalam satu.
c)     Bahasa merupakan sistem bunyi karena dasar dari bahasa adalah bunyi dan tulisan merupakan aspek atau alternatif kedua yang tidak kalah pentingnya. 
d)    Bahasa tidak merupakan kesepakatan dari pengguna.
e)     Bahasa merupakan konvensi atau kesepakatan dari pengguna suatu bahasa. 
    4.     Apakah fungsi bahasa ?
a)     Untuk menyatakan ekspresi diri, Alat komunikasi, Alat melihat
b)    Untuk menyatakan ekspresi diri, Alat komunikasi,   Alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial,
c)      Alat untuk mengadakan kontrol sosial,  tidak untuk mengekspresikan diri, bukan merupakan alat bantu komunikasi.
d)    Untuk menyatakan ekspresi diri, Alat melihat, Alat komunikasi.
e)     Alat melihat  tidak untuk mengekspresikan diri, bukan merupakan alat bantu komunikasi.
    5.     Komunikasi bisa terjadi jika proses …….. dan ……. Berjalan dengan baik. Lengkapilah jawaban diatas!
a)     Decoding, decoding
b)    Decoding, decod
c)     Encoding, decoding
d)    Encoding, encoding
e)     Encoding, decod
    6.     Pengertian dari laras bahasa adalah …….
a)     Ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu.
b)    Variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa.
c)     Semua jawaban benar
d)    A dan B benar
e)     Salah semua
    7.     Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa,
Yaitu :
a)     ragam bahasa lisan
b)    ragam bahasa tulis
c)     A dan B salah
d)    A dan B benar
e)     ragam seni
    8.     kosakata bahasa Indonesia baku adalah …….
a)    kosa kata baku bahasa Indonesia, yang memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi di dalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku.
b)    kosa kata baku bahasa Indonesia, yang memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, berdasarkan otorimas lembaga atau instansi di dalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku.
c)     Bukan sebagai tolak ukur yang ditetapkan.
d)    Benar semua.
e)     Tidak memiliki kaidah bahasa Indonesia ragam baku.
    9.     Ragam lisan adalah ………
a)    bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah; dan ragam lisan yang nonstandar, misalnya dalam percakapan antarteman, di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya.
b)    bahasa yang ditulis atau yang tercetak.
c)     Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun nonstandar.
d)    Ragam tulis yang standar.
e)     Salah semua.
    10.                     Apakah pengertian bahasa menurut Gorys Keraf ?
a)    Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
b)    Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sarana untuk berinteraksi dengan manusia lainnya di masyarakat.
c)     Untuk kepentingan interaksi sosial itu, maka dibutuhkan suatu wahana komunikasi yang disebut bahasa.
d)    Setiap masyrakat tentunya memiliki bahasa.
e)     Bahasa adalah pengganti kata inisial.
    11.                        Pengertian ejaan adalah ……..
a)     suatu keseluruhan system penulisan bunyi-bunyi bahasa yang meliputi tata bunyi saja.
b)    suatu keseluruhan system penulisan bunyi-bunyi bahasa yang meliputi  Perlambangan fonem dengan huruf (tata bunyi); Ketetapan penulisan satuan-satuanbentuk kata misalnya kata dasar, kataulang, kata majemuk dan lain sebagainya; Ketetapan cara menulis kalimat dan bagian-bagian dengan menggunakantanda baca.



c)     Ketetapan cara menulis kalimat dan bagian-bagian dengan menggunakantanda baca.
d)    suatu keseluruhan system penulisan bunyi-bunyi bahasa yang meliputi  Perlambangan fonem dengan huruf (tata bunyi); Ketetapan penulisan satuan-satuanbentuk kata misalnya kata dasar saja
e)     suatu keseluruhan system penulisan bunyi-bunyi bahasa yang meliputi kata ulang saja.
    12.                        Ciri khusus ejaan Van Ophusyen adalah :
a)     Huruf /u/ ditulis /oe/
b)    Huruf /u/ tidak perlu ditulis /oe/
c)     Kata ulang diberi angka 2, misalnya cewek-cewek.
d)    A,B,C benar semua
e)     A, C benar
    13.                        Berikut ini adalah aturan penulisan yang menggunakan huruf kapital, kecuali :
a)     Mengawali kalimat
b)    Huruf awal nama diri
c)     Ucapan langsung
d)    Huruf pertama yang berhubungan dengan Tuhan dan Kitab Suci
e)     Ucapan tidak langsung
    14.                        Ada beberapa tanda baca/pungtuasi kecuali :
a)     Titik (.)
b)    Koma (,)
c)     Titik koma (;)
d)    Titik dua (:)
e)     Tanda tanda
    15.                        Tanda koma (,) digunakan untuk :
a)    Tanda koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat yang setara yang dihubungkan dengan kata tetapi atau melaikan.
b)    Tanda koma digunakan  untuk menandai berakhirnya kalimat.
c)     Tanda koma digunakan  untuk menandai kalimat tanya.
d)    Tanda koma digunakan  untuk memisahkan bagian kalimat senjenis atau setara.
e)     Tanda koma digunakan  untuk menandai kalimat perintah.
    16.                        Apakah definisi kata dasar (akar kata) ?
a)    kata yang paling sederhana yang belum memiliki imbuhan, juga dapat dikelompokkan sebagai bentuk asal (tunggal) dan bentuk dasar (kompleks), tetapi perbedaan kedua bentuk ini tidak dibahas di sini.
b)    Kata yang tidak sederhana yang memiliki imbuhan.
c)     Kata yang tidak dapat dikelompokkan sebagai tunggal.
d)    kata yang paling sederhana yang sudah memiliki imbuhan, juga dapat dikelompokkan sebagai bentuk asal (tunggal) dan bentuk dasar (kompleks), tetapi perbedaan kedua bentuk ini tidak dibahas di sini.
e)     A dan D benar.
    17.                        Manakah kata imbuhan dari prefix dan berdasarkan contoh yang benar ?
a)     Er, el,em; gerigi, gelegar, gemetar
b)    Ber-, pe-, pen-; berlari, pelari,pembunuh
c)     Ke-an, per-an; kemanusiaan, perlakuan, perbuatan
d)    Memper-kan, diper-kan; mempertanggungjawabkan, diperlakukan
e)     A dan B benar
    18.                        Apakah komposisi itu?
a)     Komposisi merupakan suatu proses penggabungan dua atau lebih bentuk dasar sehingga menimbulkan makna yang relatif lama.
b)    Komposisi merupakan suatu proses penggabungan dua atau lebih bentuk dasar sehingga menimbulkan makna yang relatif baru.
c)     Komposisi merupakan suatu proses pemisahan dua atau lebih bentuk dasar sehingga menimbulkan makna yang relatif lama.
d)    Komposisi merupakan suatu proses pemisahan dua atau lebih bentuk dasar sehingga menimbulkan makna yang relatif baru.
e)     A dan D benar.
    19.                        Pembentukan kata di luar proses morfologis dibentuk melalui beberapa cara, kecuali :
a)     Akronim
b)    Abreviasi
c)     Abreviakronim
d)    Kontraksi
e)     Flipping
    20.                        Proses morfologi adalah ……..
a)    cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain.
b)    cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan fonem-fonem yang satu dengan morfem yang lain.
c)     A dan B benar
d)    Salah semua
e)     fonem-fonem atau urutan fonem-fonem. 

Rabu, 05 November 2014

MEMBETULKAN DAN MENGEFEKTIFKAN KALIMAT

Untuk dapat membetulkan sesuatu, kita harus mengetahui dengan tepat letak kesalahan terlebih dahulu. Pada garis besarnya kesalahan itu dapat dibedakan menjadi kesalahan ejaan (termasuk di dalamnya kesalahan tanda baca) dan kesalahan tata bahasa. Kemudian perlu dibedakan antara kalimat yang salah dan kalimat yang kurang efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan pikiran secara jelas kepada pembaca sehingga mencapai sasarannya. Kalimat efektiflah yang menyebabkan proses penyampaian dan penerimaan pikiran dapat berlangsung dengan baik.
Kesalahan Kalimat Kesalahan kalimat dapat dibedakan dari dua segi, yakni kesalahan internal dan kesalahan eksternal . Kesalahan internal adalah kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dalam kalimat, sedangkan kesalahan eksternal diukur dari unsur luar kalimat yang bersangkutan.
Kesalahan dari segi internal dapat dipilah menjadi beberapa tipe. Tipe pertama adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis sebagaimana tampak pada contoh-contoh berikut :
a)      Waktu dan tempat kami persilakan (tidak logis karena yang dipersilakan waktu dan tempat, bukan pembicara).
b)      Saya mengajar mata kuliah Jurnalistik Online di kampus (tidak logis karena yang diajar mata kuliah, bukan mahasiswa). 
c)       Kampus kami lulusannya berkualitas dan mudah bekerja (Mestinya: Lulusan kampus kami berkualitas dan mudah bekerja).

Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa kelogisan kalimat akan tampak pada kejelasan fungsional antarunsur kalimat. Kejelasan hubungan itu ditampakkan pada hubungan antara unsur pokok (subjek), sebutan (predikat),  objek, pelengkap, dan keterangan. Ketidakjelasan hubungan fungsional dapat menyebabkan gagasan dalam kalimat menjadi berbelit-belit sehingga sulit dipahami orang lain.
           
Berdasarkan sifat masalah dan tujuan penelitian ini, rancangan penelitian yang digunakan  adalah rancangan penelitian deskriptif. Kesalahan kalimat secara eksternal diukur dari cocok tidaknya sebuah kalimat-kalimat yang lain.

Membetulkan Kesalahan Kalimat
Ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat :
1.      Kalimat tanpa Subjek
Dalam menyusun sebuah kalimat seringkali dengan kata depan atau preposisi, lalu verbanya menggunakan bentuk aktif atau berawalan meN-baik dengan atau tanpa akhiran –kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat – kalimat salah seperti di bawah ini :
a)      Bagi yang merasa kehilangan kunci motor tersebut harap mengambilnya di kantor.
Pembentulan : Yang merasa kehilangan kunci motor tersebut harap mengambilnya di kantor.
b)      Untuk perbaikan prasarana desa tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat.
Pembentulan : Perbaikan prasarana desa tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat.
2.      Kalimat dengan Objek Berkata Depan
Kesalahan yang telah dibicarakan  di atas dapat dikatakan sebagai kesalahan pemakaian kata depan pada awal kalimat yang biasanya diduduki subjek. Kesalahan pemakaian kata depan  itu juga sering ditemui pada objek. Sebagai contoh :
a)      Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal warna, tetapi soal ada tidaknya barang itu. 
b)       Dalam setiap kesempatan mereka  tidak bosan – bosannya mendiskusikan tentang dampak positif daur ulang itu.
Ø  Kalimat (a) dan (b) dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depan mengenai pada kalimat (a) dan  tentang pada kalimat (b). Kesalahan seperti pada contoh (a dan b) ini juga terjadi karena mengacaukan dua bentuk yang benar, yaitu:
·         Membicarakan soal warna
·          Berbicara mengenai soal warna
·         Mendiskusikan dampak positif daur ulang
·         Berdiskusi tentang dampak positif daur ulang
Perlu dicatat bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa verba dan kata depan yang sudah merupakan paduan, misalnya:  Bertentangan dengan, bergantung pada, berbicara tentang, menyesal atas, keluar dari, sesuai dengan, serupa dengan.

3.      Konstruksi Pemilik Berkata Depan
Kesalahan pemakaian kata depan lain yang ditemui pada konstruksi frasa: termilik + pemilik. Secara berlebihan  sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan permilik dengan memakai kata depan dari atau daripada, misalnya:
a)      Kebersihan masjid adalah kebutuhan dari seluruh masyarakat sekitar
b)      AC-AC daripada perpustakaan perlu ditambah.
4.      Kalimat yang ‘pelaku’ dan verbanya tidak bersesuaian
Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’.  Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua ‘pelaku’, namun salah satu ‘pelakunya’ tidak tercantumkan, contoh: 
a)      Dalam rapat itu dia mendiskusikan perubahan sosial masyarakat pedesaan sampai berjam – jam. 
b)      Dalam rapat itu, dia mendiskusikan perubahan sosial masyarakat pedesaan dengan para pakar. 
5.      Penempatan yang Salah Kata Aspek pada Kalimat Pasif Berpronomina
Menurut kaidah, kanstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomina + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronomina. Kesalahan yang sering terjadi ialah penempatan aspek di antara pronominal dengan verba atau dalam pola: *pronomina + aspek +  verba dasar, misalnya :
a)      Kita sedang tulis …….
seharusnya : sedang kita tulis …..
6.       Kesalahan Pemakaian Kata Sarana 
Dalam menyusun kalimat sering dipakai kata sarana,kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan, sedang kata penghubung umumnya terdapat dalam kalimat majemuk baik yang setara maupun yang bertingkat. Kesalahan pemakaian kata depan umumnya terjadi pada pemakaian kata depan di, pada, dan dalam. Ketiga kata depan ini sering dikacaukan, misalnya: 
a)      Di saat pulang senior mendatangi para mahasiswa baru. 
seharusnya : Kata depan di seharusnya adalah  pada; kata depan pada

Efektivitas Kalimat 
Ada beberapa yang mengakibatkan suatu kalimat menjadi kurang efektif. Penyebab suatu tuturan menjadi kurang efektif. 
1.      Kurang Padunya Kesatuan Gagasan 
Telah diketahui bahwa setiap tuturan  terdiri atas beberapa bagian atau satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap. Di samping  itu, masing – masing satuan tersebut hendaknya mendukung satu gagasan utama atau ide pokoknya. Perhatikanlah contoh berikut ini:
a)      Setamat dari Perguruan Tinggi, Nia bercita-cita melanjutkan studi S2nya difakultas management informatika.
Seharusnya : contoh diatas tidak memiliki kesatuan gagasan. Bagi Nia masuk Fakultas management informatika itu masih merupakan cita-cita belaka!
2.      Kurang Ekonomis Pemakaian KataEkonomis dalam berbahasa berarti penghematan pemakaian kata dalam tuturan. Penghematan ini berkaitan dengan masalah keseksamaan penuturan. Agar penuturan menjadi seksama, kata-kata yang dipakai hendaknya sesuai benar dengan gagasan yang ingin diungkapkan. Untuk itu, kata-kata yang tidak diperlukan benar dipandang dari sudut maknanya harus dihindari.
Dari kedua contoh itu bisa ditemukan perbedaannya :
a)      Membicarakan tentang pelukis
·         Membicarakan mengenai pelukis.
·         Saling kait-mengait antara yang satu dengan yang lainnya.
·         Sudah pada tempatnya apabila.
b)      Membicarakan tentang Pelukis
·         Saling mengait antara satu dengan yang lainnya.
·         Sudah selayaknya apabila

Rabu, 22 Oktober 2014

Pembentukan Lebih Lanjut

Pembentuan lebih lanjut adalah pembentukan kata turunan melalui proses morfologi bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasarnya. Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa lain (bahasa daerah/bahasa luar negeri) yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia untuk memperkaya kosa kata. Proses pembentukannya ada tiga macam antara lain adalah pengimbuhan, pengulangan, dan permajemukan. Pada perulangan dan permajemukan tidak ada yang perlu dibicarakan jadi pembicaraan biasanya hanya mengenai pengimpunan.
Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dibentuk berdasarkan menghubungkan beberapa komponen berbeda. Cara memahami pembentukan kata-kata ini sebaiknya mengerti konsep dasar dan istilah.
Definisi Istilah
Kata dasar (akar kata)= kata yang paling sederhana yang belum memiliki imbuhan, ada dua jenis yaitu bentuk asal (tunggal) dan bentuk dasar (kompleks).
Afiks (imbuhan) = satuan terikat (seperangkat huruf tertentu) bila ditambahkan kata dasar akan mengubah makna dan membentuk kata baru. Afiks tidak dapat berdiri sendiri jadi harus melekat pada satuan lain seperti kata dasar.
Prefix (awalan) = afiks (imbuhan) yang melekat di depan kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.
   Ø Ber-, di-, ke-, me-, meng-, mem-, meny-, pe-, pem-, peng-, peny-, per-, se-, ter-
contohnya :  a- seperti pada  amoral, asosial, anonym, asimetris. Awalan ini mengandung arti ‘tidak’ atau ‘tidak ber’
Sufixs (akhiran) = afiks (imbuhan) yang melekat dibelakang kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.
   Ø -an, -kan, -I, -pun, -lah, -kah, -nya
contohnya : –al misalnya pada  actual, structural, emosional, intelektual. Kata-kata yang berakhiran –al ini tergolong kata sifat

Konfiks (sirkumfiks/simulfiks = secara simultan (bersamaan), satu afiks melekat didepan kata dasar dan satu afiks melekat dibelakang kata dasar yang bersama-sama mendukung satu fungsi.
   Ø Ke – an, ber – an, pe- an, peng – an,  peny – an, pem – an, per – an, se – nya.
contohnya : berpapasan, penulisan
Keluarga kata dasar = kelompok kata turunan yang semuanya berasal dari satu kata dasar dan memiliki afiks yang berbeda.
         
          Kata – kata yang diawali konsonan hambatan tak bersuara /p/, konsonan hambatan apiko dental tak bersuara /t/, konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/, konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dan geseran apiko-alveolar /s/. Jika mendapat awalan meng- atau peng-
contohnya : /p/ patung menjadi pematung, pahat, pemahatan, memahatkan.
                   
/t/ tulis, menuliskan, penulisan
                   
/k/ kotak, pengotakan, pengkotakan, mengontak
                   
/f/ pikir menjadi memikirkanpemikiranfitrah menjadimengfitrahkan
                   
/s/ setor menjadi penyetorsetoran,


Rabu, 15 Oktober 2014

Tugas Bahasa Indonesia (Ucapan Dan Ejaan)

A. Ucapan
Bahasa Indonesia bagi sebagian besar penuturnya adalah bahasa kedua.
Para penutur yang berbahasa Indonesia, bahasa Indonesia mereka terpengaruh oleh bahasa daerah yang telah mereka kuasai sebelumnya. Pengaruh bahasa dari tiap-tiap daerah menjadi ciri khas masing-masing.

B. Ejaan
Sebelum, EYD diumumkan, dalam tulis menulis dipergunakan Ejaan Soewandi atau ejaan Republik(19 maret 1947). Ejaan Van Ophuysen yang ketentuannya dimuat dalam Kitab Logat Melajoe yang disusun dengan bantuan Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’Mur dan Muhammad Taib Soetan Ibrahim(1901). Sebelum ejaan Van Ophuysen berlaku dalam tulis menulis dalam bahasa Melayu, digunakan huruf 2 Jawi atau Arab Melayu dan juga dengan huruf Latin dengan ejaan yang tidak teratur.

Penulisan Huruf
1. Penulisan Huruf Kapital
Digunakan untuk mengawali kalimat yang baru.
Contoh: Saya selalu ada

Digunakan sebagai huruf awal pada nama diri.
Contoh: Andi Ali Zainal Abidin

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama yang berhubungan dengan nama Tuhan dan Kitab suci.
Contoh: "Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.".

Huruf Kapital digunakan juga dengan nama diri, gelar kehormatan, keturunan, atau kagamaan.
Contoh: Dr.Arsyi Rahman, Nabi Isa, Haji Songo, Sultan Hasanudin.
Nama jabatan juga ditulis diawal dengan huruf capital. Contoh : Gubernur Jawa Timur, Rektor Universitas Diponegoro.
Nama diri yang kemudian menjadi nama jenis, tidak perlu ditulis dengan huruf kapital.

2. Huruf Tebal dan huruf Miring
Judul buku atau nama majalah, harus ditulis dengan huruf tebal.
Contoh: Majalah Bobo. 

Apabila ditulis dengan tangan kata-kata yang merupakan judul buku ini harus diberi garis bawah.
Judul naskah yang belum diterbitkan sebagai buku seperti naskah skripsi, tesis, atau disertai cukup ditulis dalam tanda petik (“___”). Contoh: “Penulisan Sesuai EYD“

Judul karangan yang dimuat dalam majalah atau dalam buku kumpulan karangan, atau judul satu bab dari suatu buku yang harus ditulis dengan huruf miring, kalau diketik atau ditulis tangan di antara tanda petik. Contoh: Karangan
George Orwell yang berjudul “The Last Man in Europe”.

Huruf miring juga dipergunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan kata, bagian kata atau kelompok kata. Contoh: Huruf pertama kata awas adalah a.

Huruf miring juga digunakan untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing. Contoh: Nama ilmiah buah 
Alpukat ialah Persea americana

3. Penulisan Partikel dan Awalan
Dalam menulis kata-kata sesuai dengan EYD perlu diperhatikan penulisan kata atau partikel yang dirangkaikan dan yang tidak dirangkaikan.
Ada kata atau awalan yang harus ditulis serangkai, yaitu adi- misalnya pada adidaya, adikuasa, adimarga, adibusana.
Ada juga yang tidak di rangkaikan seperti Maha Pemurah, Maha Mengetahui, Maha Pengampun.

4. Penulisan Bilangan
Bilangan ada yang harus ditulis dengan angka, ada yang harus ditulis dengan huruf.
Bilangan yang menunjukkan jumlah dari satu sampai sembilan ditulis dengan huruf.
Contoh : “tiga juta rupiah”.

Dalam penulisan jumlah, ukuran dan timbangan itu di gunakan juga tanda titik dan koma.
Untuk menyatakan jam, misalnya pukul setengah tiga, tanda titik itu ditaruh antara jam dan menit. Contoh: 5 jam lima belas menit sepuluh detik ditulis 5.15.10.

Bilangan tingkat dapat dinyatakan dengan huruf, dengan angka, dan dengan huruf dan angka.
Contoh keempat atau ke-5 atau V.

Dalam kuitansi atau surat-surat yg mempunyai kekuatan hukum jumlah yang ditulis dengan angka masih disertai jumlah yang ditulis dengan huruf yang ditulis di antara tanda kurung.

5. Tanda Baca
Ada bermacam-macam tanda baca/pungtuasi, seperti titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (:), dan petik (“..”).

a) TANDA TITIK (.)
Tanda titik dipakai untuk menandai berakhirnya kalimat.

Titik juga digunakan sesudah nomor bab atau subbab atau bagian dari subbab.

Singkatan dengan huruf kapital yang merupakan gelar yang diletakkan di belakang nama tetap menggunakan titik di belakang tanda koma tersebut. Contoh : Contoh: Dr. Bima Tintry, Cut Lisa Marlina SE. MM.

Tanda titik juga digunakan dalam daftar pustaka yang rujukanya menggunakan sistem rujukan tahun dan halaman. Contoh:
Albarda (2004). Strategi Implementasi TI untuk Tata Kelola Organisasi (IT Governance).


b) TANDA KOMA (,)
Digunakan untuk menandai adanya jeda atau kesenyapan antara dalam suatu kalimat.

Digunakan untuk membatasi bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung koma.

Digunakan juga untuk memisahkan kalimat-kalimat dalam suatu perincian. 

Dalam surat-surat keputusan tanda titik koma banyak digunakan untuk membatasi kalimat-kalimat yang merupakan bagian dari konsideransi dan bagian dari isi putusan itu sendiri.

c) TITIK KOMA (;)
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh : Semua merek baju harganya sama; tidak ada merek baju yang di bedakan.


Tanda titik koma juga digunakan untuk membatasi bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung koma.
Contoh: Di toko Gramedia itu Ayah membeli Laptop, sepatu, mouse, dan kaos kaki; Danang membeli ikat pinggang, tas, dasi,dan kacamata; sedangkan Rahmat membeli buku novel, bolpoin, dan jam tangan.

Tanda titik koma digunakan juga untuk memisahkan kalimat-kalimat dalam suatu perincian.
Contoh: Dalam kesempatan ini penulis akan menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
1.Bapak DR. Bagus Setyawan dan Ibu Saodah SE. MM sebagai pembimbing 1 dan pembimbing 2, yang dengan penuh kesabaran telah memberikan petunjuk dan nasihat-nasihatnya;


d) TITIK DUA (:)
Digunakan dipakai akhir suatu pernyataan yang lengkap dan diikuti oleh rangkaian atau perincian. Contoh : Fakultas Tekonologi Industri Universitas Gunadarma mempunyai empat jurusan: Jurusan Teknik Informatika ,Jurusan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Elektro,dan Jurusan Teknik Industri

Tanda koma juga digunakan dalam kalimat majemuk yang anak kalimatnya mendahului induk kalimatnya. Contoh: Meskipun hujan, ia pergi juga ke kantor.

Tanda koma digunakan juga untuk memisahkan dua kalimat yang setara yang dihubungkan dengan kata tetapi, atau, melainkan. Contoh: Orang itu pintar, tetapi tidak sombong.

Titik dua juga digunakan pada kata-kata misalnya, contohnya, dan sebagai berikut yang diikuti perinciaan.

Tanda titik dua juga digunakan untuk pemerian yang berbentuk formula, misalnya pemerian suatu organisasi. Juga dalam surat- surat undangan yang menyebutkan hari/tanggal, pukul, tempat, dan cara dalam bentuk formula.

Digunakan untuk membatasi judul karangan dengan subjudulnya, di antara surat dan ayat dalam kitab suci, diantara tahun dan halaman dalam rujukan kurung antara nama kota dan nama penerbit dalam daftar pustaka.

e) TANDA PETIK (“- “ ) 
Digunakan dengan tanda petik dalam tulisan atau ketikan biasanya dicetak dengan huruf miring.

Dalam karangan tercetak tanda petik juga digunakan untuk menandai kata-kata yang tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya. Contoh : Itu dia “pemenang” kita datang.


f) TANDA HUBUNG (-)
Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan kata-kata yang diulang seperti meja-meja , berjalan-jalan, buah-buahan.

Digunakan apabila huruf-huruf dirangkaikan dengan bilangan, huruf kecil, atau huruf kecil yang dirangkaikan dengan huruf kapital.

Tanda hubung juga digunakan untuk membatasi tanggal, bulan, dan tahun apabila semuanya ditulis dengan angka. Contoh 18-06-2013.

Tanda hubung juga digunakan untuk menghubungkan awalan atau akhiran dalam bahasa Indonesia yang dirangkaikan dengan kata dasar asing. Contoh: Di-tackle , pen-smash-an.

Tanda hubung juga digunakan untuk mendai hubungan kata-kata dalam kelompok kata agar tidak menimbulkan tafsiran yang tidak dikehendaki. Contoh: Istri direktur yang-nakal itu.


6. TANDA-TANDA BACA YANG LAIN

Tanda–tanda baca yang lain ialah :

Tanda pisah (-)
- Untuk memisahkan kata-kata. Contoh : 1945--2014.

Tanda elipsis (…)
- Digunakan untuk menandai tuturan yang terputus-putus. Contoh : Kalau engkau mau ….yah…, baiklah mari kita jalan.
- Digunakan dalam suatu kutipan menunjukan bahwa ada kata-kata yang tidak dikutip dalam kutipan tersebut. Contoh : “Morfem ialah ….bentuk bebas yang terkecil”.

Tanda Tanya (?)
- Digunakan untuk kalimat Tanya dan diletakan di akhir kalimat. Contoh : Di mana saudaramu?
- Tanda tanya yang ditaruh di antara tanda kurung digunakan untuk menyatakan keragu-raguan atau kesangsian. Contoh : Ini ditemukan pada tahun 1806 (?)

Tanda seru (!)
- Tanda seru digunakan untuk menandai seruan/perintah/panggilan.

Tanda kurung ( )
- Tanda kurung juga digunakan untuk mengapit penjelasan atau keterangan. Contoh : keterangan ini (lihat tabel 10) menunjukan arus perkembangan baru dalam pemasaran dalam negeri.
- Tanda kurung juga untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan merupakan bagian yang pokok dari pembicaraan.
- Tanda kurung juga dipergunakan untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci keterangan.

Tanda kurung siku ([ ])
- Tanda kurung siku digunakan sebagai tanda koreksi bahwa dalam naskah itu terdapat huruf , kata, atau kelompok kata yang ditulis di antara tanda kurung siku tersebut. Contoh: Si Bara Men[L]ihat gorilla.
- Tanda kurung siku di gunakan juga untuk memberi tanda kurung di dalam bagian kalimat yang sudah menggunakan tanda kurung. Contoh: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab 11 [lihat halaman 25 –38] tidak dibicarakan ) perlu di bentangkan di sini.

Tanda garis miring (/)
- Tanda garis miring digunakan dalam penomoran surat. Contoh: NO :7/TP09/k/91
- Untuk menunjukkan tahun anggaran atau tahun kuliah. Contoh : 2003/2004
- Garis miring berarti juga tiap-tiap atau per. Contoh : Rp2500/orang.

Tanda penyingkat/apostrof (‘)
- Digunakan untuk menunjukan adanya bagian–bagian yang dilesapkan. Contoh : Istana yang megah ‘kan ku dirikan (kan=akan)
Malam ‘lah tiba (‘lah=telah)
Januari’05 (‘05=2005)